Rabu, 18 April 2018

GEBLEK RINDU CIRENG SENSASI BARU


      Jika sobat berkunjung di sebuah daerah tentunya  tidak  lengkap jika tidak membawa oleh-oleh khas dari tempat tersebut. Sekarang ini oleh-oleh khas atau makanan khas mudah untuk dijumpai di berbagai daerah. Contohnya seperti bakpia,  cireng, pempek, lanting,  dan makanan khas  lainnya

Oh ya sobat,  berbicara tentang makanan khas ada  salah satu makanan khas yang memiliki nama dan bentuk yang unik. Kalian tahu cireng? Iya cireng adalah makanan khas Kota Bandung yang terbuat dari tepung aci atau tepung tapioka. Tapi makanan khas ini bukan cireng lho. Makanan khas ini memang memiliki tekstur seperti cireng karena bahan pokok untuk membuatnya sama, namun yang  membedakan adalah cara pembuatannya. Pengen tahu apa nama makanan khas tersebut? Nama makanan tersebut adalah ”geblek”. Mendengar kata geblek pasti cukup aneh terdengar di telinga. Makanan seperti apakah itu? Oke,  yuk saatnya kepo seperti apa geblek itu.
Geblek adalah makanan khas dari Kota Purworejo. Namun, makanan ini tersebar luas di sepanjang Pantai Selatan Pulau Jawa dengan nama yang berbeda- beda. Sebagai contohnya seperti daerah Purworejo, Yogyakarta, Wonosobo makanan ini disebut geblek. Di daerah Prembun, Kebumen, Gombong makanan ini disebut binggel. Daerah Banyumasan  seperti Cilacap dan Purwokerto makanan ini disebut gembus, sedangkan di daerah Jawa Timur seperti Pacitan disebut dengan Kolong.
Bentuk dari geblek sendiri cukup unik yaitu berbentuk dua lingkaran yang di satukan seperti bentuk angka 8. Makanan ini terbuat dari tepung tapioka basah atau biasa di sebut dengan aci. Aci tersebut di uleni dengan bumbu bawang putih, ketumbar, dan garam yang selanjutnya direbus setengah matang. Waktu perebusannya kurang lebih 5 sampai  10 menit. Setelah itu diangkat dan diuleni hingga adonan tidak lengket. Kemudian adonan dipelintir dan dibentuk menjadi lingkaran  atau bentuk angka 8.
Sobat yang berkunjung ke Kota Purworejo jangan lupa mencicipi olahan makanan yang satu ini ya. Rasa gurih, legit, dan kenyal akan sangat terasa saat sobat mengigitnya. Makanan yang satu ini paling enak disantap dalam kondisi hangat, kalau  dalam bahasa jawanya “anget”. Harga dari geblek juga tidak mahal kok. Sobat hanya merogoh kocek Rp 5000 hingga Rp 10.000 saja, geblek siap disantap. Geblek semakin enak disajikan besama cocolan sambal kacang dan segelas teh. Pengen tahu bagaimana sensasinya, yuk mampir ke Kota Purworejo.

BROWNIES CINTA VS GEBLEK RINDU

“ Rindu, adalah kata yang penuh makna dan arti yang mendalam, aku menemukan nama rindu karena terispirasi darimu yaitu cinta. Gara-gara brownies cinta aku menemukan kata rindu” 

       Waduh, lihat judulnya aja udah gimana gitu… Versus-versusan kayak mau tanding aja yaa… Tapi misal kalau di tandingkan haduh itu geblek rindu ibarat butiran rinso dan brownies cinta ibarat Bola basket yang besar. Pasti jauh banget lah, ibarat diguyur hujan itu butiran rinso udah hilang dehh… hehehe Tapi sorry, bukan itu yang mau aku bahas kok… tapi apa coba, oke aku certain deh. 

     Brownies cinta adalah salahsatu inspirasiku dalam memberi nama produk usahaku yaitu rindu, Geblek Rindu adalah produk bisnisku. Oke, aku punya usaha dibidang kuliner makanan khas kotaku yaitu kota Purworejo. Makanan itu juga terkenal di berbagai daerah seperti Kulon Progo Jogjakarta, Purworejo, Kebumen, Wonosobo, Cilacap, hingga Purwokero daerah Jawa Tengah. Ada juga didaerah Jawa Timur seperti daerah Pacitan. Yang mana memiliki nama yang berbeda-beda namun, memiliki tekstur, rasa, dan bentuk yang sama. Bentuk geblek biasanya angka 8 atau kumpulan dari beberapa lingkaran yang disatukan, dengan bahan dasar tepung kanji atau tepung singkong basah. Memiliki rasa gurih dan enak disantap saat panas.

    Aku masih ingat, kenapa Pak Fauzi memberikan nama browniesnya dengan brownies cinta. Kenapa coba? Ingin tahu.. karena beliau membuat brownies tersebut dengan penuh cinta. Hehehe… seingatku begitu penjelasan beliau. Sehingga beliau memberi nama brownies cinta. Setiap orang juga punya cinta pastinya bisa cinta kepada sang pencipta, ataupun kepada makhluk ciptaannya. Kata cinta adalah kata yang simple dan memiliki makna yang dalam menurutku. Dan aku terispirasi dengan member label nama produk usahaku dengan nama geblek rindu. 
Terimakasih Brownies cinta kau telah menginspirasi bisnisku”.

ANTARA BROWNIES CINTA DAN BISNISKU

“ Banyak hal yang aku dapatkan ketika ku mengenalmu terutama Ilmu bisnis, yaa… salahsatunya gara gara kamu Brownies Cinta”

    Aku pertamakali mengenal Brownies Cinta (Brownies Cinta) saat salah satu teman menanyankan tentang brocin. Seingatku, waktu itu saat acara genpro kampus. Yaa.. di acara itu, saat pak ketua Genpro menanyakan hal itu padaku. Pemilik Brownies Cinta, Pak Fauzi adalah pemilik dari usaha Brownies Cinta tersebut. Beliau juga merupakan mentor dari grup Genpro Kampus. Setiap bulannya kami mengadakan pertemuan dengan beliau untuk mengasah dan menambah ilmu kami terkait bisnis. Kami sering menyebut pelatihan Genpro tersebut dengan nama GMB. Waktu itu pertama kalinya aku mengikuti acara GMB. Seingatku ada sekitar 30 orang yang tergabung dalam grup GMB tersebut. Walaupun sampai sekarang aku tak tahu singkatan dari GMB tersebut. Hehehe… harap maklum kawan. Masih terfikir dalam benakku, aku cukup menanti nanti acara tersebut.

 Aku adalah seorang yang haus akan ilmu terutama ilmu-ilmu yang berkaitan dengan bisnis. Betemu dengan para pebisnis dikota solo adalah keinginanku. Karena itulah aku mengikuti GMB supaya dapat di damping oleh salahsatu pengusaha dikota solo, yang pastinya sudah memiliki banyak pengelaman dan memakan asam garam kehidupan. 

 Tibalah waktu yang dinanti, yaitu pelaksanaan GMB, dalam pemberitahuan acara tersebut bertempat di Pondok Preneur daeah dekat kampus UNS. Masih tercatat dan terdokumentasikan dalam HP ku tanggal 3 Februari 2017. Aku adalah peserta pertama yang datang kesana, namun cukup mengecewakan bagiku karena pesertanya hanya sedikit. Ya hanya 3 orang, itu saja 2 orang mas ketua bersama dengan istrinya. Padahal aku hampir saja  pulang, karena sudah cukup menunggu lama, namun teman teman tak ada yang kunjung datang. 

Berhubung hanya 3 orang saja akhirnya kita memutuskan untuk pergi berkunjung kerumah Pak Fauzi di daerah Karangannyar. Dimana rumah tersebut juga dijadikan sebagai tempat usaha beliau Brownies Cinta tepatnya di Jalan Bradansari belakang Mitra Karanganyyar utara alun-alun Karanganyar. Disana juga merupakan pusat dari usaha Brocin. 

Kekecewaanku tidak begitu lama karena terbalaskan dengan ilmu serta pengalaman bisnis yang luar biasa menurutku. Bisa berkunjung. Melihat langsung tempat usaha brocin, dan saling sharing dengan pemilik brownies cinta merupakan suatu anugerah yang harus aku syukuri. Yang mana semakin memantapkan jalanku untuk membuka bisnis sendiri. Walaupun saat itu aku juga memiliki bisnis franchise bersama teman saya yaitu franchise bubur bayi. Tapi sayangnya sekarang sudah tidak saya urus lagi… Pengen tahu kenapa?? Ehmmmm, ah sudahlah nanti malah membuka luka lama… hehehe. 

Oke kembali ke topik ya.. Walaupun pesertanya hanya 3 orang saja, namun berjalan dengan sangat efektif menurutku. Kerena apa? Karena aku menjadi sangat termotivasi dengan apa yang di sampaikan oleh Pak Fauzi. Banyak pengalaman dan ilmu bisnis yang aku dapatkan dari beliau terutama dari segi pencatatan dan menejemen keuangan. 

Setiap hal yang masuk dan keluar dalam bisnis atau usaha kita harus di catat tutunya. Beliau juga melakukan itu pada usahanya sejak usahanya kecil sampai seperti sekarang ini. Oh ada satu hal lagi yang cukup membuat saya kagum pada beliau. Walaupun beliau adalah pemilik atau owner dari brocin beliau tidak mengambil uang bisnis semena mena, beliau minta di gaji dengan gaji sesuai dengan persetujuan. Ibaratnya, mau omset naik jika memang kesepakatan gaji beliau segitu ya segitu. 

Pernah juga beliau bercerita bahwa gaji beliau kebanyakan, beliau pun mengembalikan kelebihan gaji tersebut. Kecee dan keren abizzz lah menurutku. Jarang sekali seorang pengusaha berfikir untuk di gaji. Kebanyakan pengusaha akan mengambil sebanyak banyaknya keuntungan yang di dapat untuk kebutuhan pribadinya. Ya aku juga seringkali melakukan itu,,, hehehe, tiba-tiba habis saja uang modal usahanya karena dipakai untuk kebutuhan.

Beliau menerapkan itu sejak bisnis beliau kecil hingga sebesar sekarang ini. Pak ketua genpro bilang bahwa jika omset brownies cinta mencapai 200 juta perbulan. Waktu itu tahun 2017, coba sekarang sudah tahun 2018 dimana saat itu brocin baru memiliki 2 outlet yaitu di Karangannyar dan Tawangmangu. Sekarang alhamdulilah sudah banyak cabang saya lihat, seperti Sragen,Solo, dan Sukoharjo. Hehehe… ada yang cukup lucu saat berkunjung kesana yaitu waktu akan pulang. Mumpung disana pengen mencoba bagaimana rasanya brownies cinta. Ya akhirnya aku beli deh satu kotak brocin hitam putih kalau tidak salah hargany 38 rb. Harga yang cukup ekonomis untuk satu kotak brownies dengan 2 varian rasa hitam dan putih, walaupun pak ketua berharap kami mendapat oleh-oleh brownies sebenernya. Brownies cinta gratis gitu… heheheh. Oh ya tapi tenang saja, akhirnya aku dapat brownies gratis kok dari brownies cinta. Mau tahu ceritanya ada dicerita selanjutnya.. “ Brownies cinta manisnya pas, teksturnya lembut, coklatnya kerasa, dan satulagi gak bikin neg lho..”

BERAWAL DARI MIMPI

Beberapa tahun ini nama Sandiaga Uno kerap kali terdengar di telingaku. Apalagi saat akan berlangsungnya Pilgub Jakarta 2017, nama ini ...