
Pernah gak sih kalian beli sesuatu terus yang ngelayanin cuek dan gak bikin enak hati alias ketus gitu. Pastinya dari seratus orang Indonesia yang pernah ditemui dan diwawancarai tentu akan menjawab “Pernah”. Gak hanya ketika kita membeli, namun juga ketika kita membutuhkan pelayan khususnya pelayanan publik.
“Dongkol banget tuh pasti rasanya terkadang pengen negur dan mencaci maki di depannya si orang yang ketus itu”. Tapi mau bagaimana, kita kan masih punya etika, dan sedikit kesabaran paling-paling berefek trauma dan gak mau dilayani atau kapok buat beli ditempat itu lagi.
Tapi memang setiap orang memiliki karakter dan sikap yang berbeda beda. Dalam menghadapi orang yang cuek atau ketus saat melayani, ada dua tipe atau sikap yang dilakukan yaitu:
Sikap pertama menanggapinya dengan masa bodoh dan tidak menganggap masalah.itu. Sikap yang kedua bersikap peduli terhadap masalah tersebut dengan melakukan suatu tindakan tertentu. Tanggapan bagi orang yang cuek dengan masalah itu mungkin dia hanya akan diam saja, merasa cukup sakit hati tapi tidak ia lampiaskan, berfikir positif mungkin si orang yang melayani sedang lelah sehingga berefek ketus, atau melampiaskan di belakang yaitu dengan bercerita kepada temannya atau orang lain tentang tindakan cuek atau ketus yang dialaminya yang terkadang akan berpengaruh terhadap teman atau oang lain yang sudah kita ceritakan.
Jika tindakan pertama kita lakukan mungkin tidak akan berpengaruh terhadap orang yang berlaku ketus atau cuek tersebut. Disini kita hanya cari aman, tidak ingin memperpanjang masalah, dan membiarkan masalah ini berlalu begitu saja. Berbeda dengan orang yang peduli dengan masalah tersebut. Orang yang peduli dengan masalah tersebut cenderung akan menegur tindakan itu. Teguran atas perilaku ini dapat secara langsung ataupun tidak langsung. Jika secara langsung, si orang akan melontarkan kata-kata secara langsung kepada orang cuek atau ketus tersebut di depan umum, mungkin tindakan ini tentunya akan menyulut emosi di kedua belah pihak, yang terkadang akan semakin memperpanjang masalah. Untuk sikap peduli namun tidak secara langsung bisa dengan melaporkannya kepada pimpinan (atasan) atau pemilik usaha, yang bertujuan agar dapat memberikan arahan kepada bawahan atau karyawannya supaya bersikap lebih baik lagi alias menghilangkan perilaku cuek atau ketus tersebut.
Sebenarnya mengapa sih ada orang yang ketus dan cuek seperti itu? Memang sudah wataknya atau memang kondisinya. Sebenarnya banyak orang bersikap ketus atau cuek saat melayani. Bisa jadi memang karena kitanya yang juga cuek dan ketus terlebih dahulu sehingga kita mendapat perlakuan yang ketus atau cuek juga. Terkadang hal ini yang belum kita sadari. Namun, jika memang kita sudah bersikap baik dan tetap mendapatkan perlakuan tidak baik berarti bisa jadi memang wataknya atau memang kondisinya si orang yang melayani sedang tidak baik seperti dalam keadaan lelah, sedang dapet, atau sensitif. So, be positif thinking ajalah sama hal itu. Ada satu hal yang harus kita yakini, bahwa apapun tindakan atau perilaku yang kita berikan pastinya juga akan berdampak pada kita sendiri. Jika kita berbuat baik, maka kebaikanlah yang akan kita dapatkan. Hal ini pun juga sebaliknya jika kita berbuat buruk maka keburukanlah yang akan kita dapatkan. Silahkan Anda mau pilih yang mana???
Catatan, di Stasiun Purwosari
Pengennya langsung bertatap muka aja nihh
BalasHapusTanpa ekspresi soalnya
ceritanya mau ketemu aku nih..?
Hapuspulang dulu ke Indonesia bung,
dan berhenti ngrokoknya...
dah itu doang kok syaratnya