Beberapa tahun ini nama Sandiaga Uno kerap kali terdengar di telingaku. Apalagi saat akan berlangsungnya Pilgub Jakarta 2017, nama ini santer terdengar sebagai bakal calon gubernur 2017.
Aku masih ingat sekali waktu di tahun 2016 awal, beliau adalah kandidat calon gubernur DKI jakarta yang pertama kali publis di media. Jujur waktu awal kali aku cukup meremehkannya, sampai bilang pak Sandi ini orangnya kok pede banget ya. Pernah dalam siaran media disebutkan bahwa pak Sandi berkunjung ke balai kota dan berfoto disana, saat itu ada beberapa media yang mewawancarainya, aku cukup takjub karena waktu itu beliau berkata dengan yakin dan mantab, bahwa tahun depan beliau akan mengabdikan dirinya disana. Mendenger itu aku malah semakin meremehkan beliau, dalam logat bahasa Jawaku aku berkata "Jajal tak delok, tenane bakalan dadi gubernur po kok wis gemede men"
Peristiwa itu masih sangat terngiang ngiang di kepalaku. Aku yakin pasti banyak sekali yang meremehkan beliau waktu itu, apalagi banyak media yang memberitakan hal tersebut dalam porsi yang negatif. Terbukti waktu itu akupun cukup termakan media dengan meremehkannya.
Seperti yang di katakan Pak Mahfud MD bahwa politik itu sifatnya dinamis dan dapat berubah sewaktu waktu. Hal ini pun terjadi dan menimpa Pak Sandi. Awal kali beliau memang di calonkan sebagai Cagub, namun ternyata rapat partai menyatakan bahwa Pak Sandi menjadi Cawagub, dan Pak Anies Baswedan sebagai Cagubnya. Ini adalah bentuk strategi politik, walaupun begitu, pak Sandi masih tetap legowo menerimanya dan memahami atas keputusan tersebut.
Sebenarnya dari peristiwa ini aku mengambil hikmah bahwa kekuatan mimpi itu luar biasa, ketika calon lain masih bersiap siap beliau sudah pergi dan memulai langkah lebih awal. Banyak orang yang nyi nyir dan meremehkan beliau, namun itu semua beliau anggap sebagai cambuk semangat, ya semangat untuk mewujudkannya dengan langkah langkah yang baik dan bijaksana pula.